Emirar https://www.emirar.com/2018/03/share-pengalaman-linux.html

Sharing pengalaman menggunakan Linux

Arch Linux is the best
Sebelum Anda memilih Distro yang cocok untuk Anda gunakan sebagai OS di komputer/laptop Anda sebaiknya Anda baca curhatan saya ini. Karena mungkin saja Anda satu pemikiran dengan saya. 😉

Singkat cerita selama awal tahun 2016 hingga saat ini saya sudah banyak sekali gonta ganti Distro, mulai dari yang terkenal sampai yang katanya menyeramkan, seperti penampakan saja ya. LOL

Distro awal yang saya gunakan waktu pertama kali yaitu Ubuntu. Siapa sih yang gak kenal sama distro yang satu ini, distro keturunan Debian ini sangat familiar di kalangan programmer bahkan menjadi salah satu distro terfavorit sepanjang saya jalan-jalan di forum, group dan di dunia nyata.

Mungkin karena pengembang Ubuntu yang banyak dan aktif serta komunitas Ubuntu yang besar menjadikan Ubuntu paling terpopuler sepanjang sejarah ini.

Karena tampilannya? Tidak juga, itu hanya pilihan Desktop Environment saja, kita bisa milih sendiri bukan? Standar Desktop Environment Ubuntu memang GNOME tapi kita juga dapat menginstal XFCE, Mate, LXDE, Pantheon, Cinnamon, Budgie, KDE 5 dan lainnya. Akan tetapi dengan adanya Ubuntu flavours mempermudah kita untuk memilih Desktop Environment sesuai dengan keinginan kita. Yap, kita bisa menginstalnya sendiri, namun jangan menganggap mudah begitu saja, kita bisa menginstalnya sendiri namun tentu saja akan tidak komplitable dengan system Ubuntu. Karena dari Ubuntu sendiri menyarankan untuk memilih variant dari Ubuntu flavours.

Saya sendiri tidak menginstal Ubuntu saat ini, karena tidak sesuai dengan hardware laptop saya. Sering lag. Tidak sesuai dengan hardwarenya.

Saat ini saya menginstal Arch Linux, Debian, Fedora, CentOS dan distro lainnya yang tidak perlu saya sebutkan. Terus saya menetap di distro apa? Nah, karena saya menyadari hardware saya yang minim maka dari itu saya memilih Arch Linux sebagai base sekaligus mengontrol distro lainnya yang saya install. Kenapa pilihan saya Arch Linux? Karena Arch Linux itu tidak sama dengan yang lain, menginstalnya saja ribet. Padahal hanya masalah interface instalasinya saja. Yang jelas saya memilih Arch Linux karena keren, ukuranya kecil, menginstalnya ribet, menginstal paketnya sesuai dengan kebutuhan kita, install Desktop Environment bebas sesuai dengan pilihan kita dan tentunya yang official support.

Dengan Arch Linux kita bebas menentukan Boot loader apa yang kita gunakan dan apa saya yang berkaitan dengan kelancaran system, inteface, kerja hardware dan lain sebagainya. WOW! Sangat keren bukan?

Saya menggunakan Arch Linux untuk ngeblog, design, coding, menjalankan apache, docker dll. Mendengarkan musik sambil coding, sambil membuka banyak aplikasi dengan mudah dan tidak lag. Amazing?

Terus fungsinya saya menginstal Debian, Fedora dan CentOS apa dong? Nah gunanya yaitu untuk update keperluan kerjaan, blog, website. Supaya saya bisa langsung mengetesnya tanpa ribet. Nah itu fungsinya.

Kesimpulan dari curhatan ini yaitu:

Arch Linux is the best


Sekian, terima kasih. Ditunggu komentarnya. 😅

Jika Anda penasaran dengan Arch Linux dan ingin menginstalnya silahkan baca artikel saya tentang Cara install Arch Linux dengan UEFI (Tutorial Lengkap).

Bagikan postingan ini:

Reactions:

Pertimbangkan untuk mendukung kami:

Jika Anda merasa bahwa artikel di blog ini bermanfaat, mohon pertimbangkan untuk mendukung kami. Anda dapat memilih banyak opsi untuk mendukung kami dengan cara donasi, diantaranya menggunakan Bank, Crypto dan lain sebagainnya. Terima kasih.

Donate

Subscribe to our newsletter

Notifikasi